Rabu, 06 Februari 2013

mulai ngeblog lagi

setelah hampir 1 tahun tidak ngeblog nyoba nulis-nulis lagi, tapi sedikit lupa jalannya (mau nulis atau nyari alamat sih)hhheee.... Yah mungkin karna sibuk dengan facebook dan twitteran hhheee... Mumpung ada wifi gratis yah nulis lagi lah.

BACA SELENGKAPNYA ...

Rabu, 25 Januari 2012

Javier Zanetti

Javier Zanetti di mata pemain dan pelatih dunia
“Didunia ini, tidak ada satupun pemain yang saya takuti, kecuali Zanetti” (Marco Materazzi) “Icon sepak bola yang sesungguhnya” (Roberto Mancini)
“Dulu dia pernah mengatakan ingin menjadi seperti saya, tapi sekarang saya ingin mengatakan kepada dia bahwa sekarang saya ingin seperti dia” (Roberto Baggio)
“Dia mengajarkan kepada saya bagaimana menjadi seorang kapten” (Fabio Cannavaro)
“Anda biasa melihat pelatih di sisi lapangan, namun jika di dalam lapangan Zanetti adalah pelatih anda” (Wesley Sneijder)
“Semua pemain ingin menjadi seperti Javier” (Jose Mourinho)
“Saya sangat takut menghadapi ketenangan Zanetti” (Lionel Messi)
“Musuh yang paling saya hormati” (Paolo Maldini)
“Zanetti? Hanya satu kata, SEMPURNA” (Esteban Cambiasso)
“Jika saya mempunyai 10% dari 100% kemampuan Zanetti, saya bisa menjadi pemain terbaik di dunia” (Davide Santon)
“Walaupun anda melakukan kesalahan separah apapun ketika bertanding, tidak ada sedikit pun wajah kemarahan yang kelihatan dari Zanetti, dia akan membantu dan membimbing anda untuk menjadi lebih baik lagi” (Douglas Maicon)
“Jika anda ingin belajar bagaimana menjujung tinggi sportivitas, silakan belajar kepada Zanetti“ (Fabio Capello)
“Pemain yang paling bersih yang pernah saya lihat” (Sir Alex Ferguson)
“Hanya satu yang belum pernah saya lihat dari Javier, kemarahan“ (Diego Simione)
“Jika anda ingin menjadi pesepakbola, lihatlah Zanetti ” (Pierre Luigi Collina)
“Saya memang tidak mengenal Zanetti secara personal, tapi jika saya memperhatikan kemampuannya, sikap dan prilakunya di dalam ataupun diluar lapangan, nilai 100 belum cukup untuk diberikan kepada Zanetti” (Arsene Wenger)
“Tidak ada pembelian terbaik yang pernah saya lakukan, kecuali membeli Zanetti“ (Massimo Moratti)

BACA SELENGKAPNYA ...

Kamis, 19 Januari 2012

SCUDETTO OF HONESTY : Tragedi Superga dan Scudetto Inter (Kasih Sayang, Keiklasan dan Kejujuran)

Tragedi Superga dan Scudetto Inter :Kasih Sayang, Keiklasan dan Kejujuran

Tragedi Superga adalah sebuah tragedi yang melibatkan IL Grande Torino, Peristiwa yang terjadi pada pukul 17.04 waktu Italia, 4 Mei 1949 tersebut, merupakan lembar buram sejarah sepak bola Italia. Tak sekadar merenggut 31 jiwa. Lebih dari itu, kecelakaan itu juga memutus rantai sebuah generasi emas.

Bayangkan, 18 dari 31 penumpang yang tewas tersebut merupakan skuad inti Torino, tim tertangguh di Italia dan salah satu tim terkuat di Eropa. Pada saat itu, Torino adalah raja. Inter,Juventus atau Milan tak berkutik. Torino berhasil menobatkan diri sebagai juara sejati Italia dengan mengangkangi takhta Serie A dari 1943 sampai 1949 tanpa putus.


Yang lebih tragis, 70 persen kekuatan Timnas Italia juga ada di Torino. Klub berjulukan "El Toro" itu menyumbang 7 pemain untuk "Gli Azzurri". Salah satunya, Valentino Mazzola, kapten dari segala kapten, ayah dari legenda Inter Milan, Sandro Mazzola.


Valentino merupakan pemain paling karismatis di Italia. Pria yang telah mencetak 100 gol di Serie A sebelum umurnya menginjak 30 tahun ini dianggap seperti jenderal oleh teman-temannya. Nakhoda kapal "Gli Azzurri" ada di tangannya.


Hubungan Scudetto Inter dengan Tragedi Superga?

Saat kejadian terjadi Inter dan Torino sedang bersaing dalam perebutan capolista, Torino memimpin klasmen dengan di ikuti oleh Inter. Kedua klub hanya berselisih 3 point dan menyisakan 4 pertandingan lagi.

Petaka superga berawal dari udangan melawan klub Benfica Portugal, dimana kapten Benfica dan kapten Timnas Portugal Francisco Jose Ferreira, berniat gantung sepatu. Ferreira lalu mengundang sahabat dan pemain yang paling dihormatinya, Valentino Mazzola, untuk melakukan pertandingan persahabatan di Portugal.

Pasca dari tragedi Superga squad Torino mengalami kepedihan dan hanya menyisakan pemain primavera, sehingga FIGC melakukan rapat bersama dengan klub-klub seri A pada waktu itu. Dari hasil rapat terdapat sebuah keputusan untuk memberikan scudetto kepada Torino guna mengenang dan menghormati semua korban tragedi superga

Carlo Masseroni (1942–1955) presiden Inter waktu itu ikut menyetujui keputusan FIGC tersebut dengan mengorbankan peluang scudetto yang didapat, jika melihat dari susunan klasemen serta 4 pertandingan sisa Inter yang saat itu di pimpin oleh I Nyers dan E. Bearzot di yakini mampu memenangi sisa pertandingan yang ada.Dan Torino dengan tim primaveranya akan kesulitan memenangi laga sisa.

Carlo melihat memenangi sebuah scudetto saat seluruh Italia berduka tidak lah menjadi sebuah kebanggan, apa yang telah kita setujui dan kita lakukan hari ini akan menjadi sebuah sejarah, Kasih Sayang, Keikhlas dan Kejujuran.

Hikmah dari Tragedi Superga

Anak dari Valentino Mazzola legenda Itali dan Torino bernama Sandro Mazzola, hanya mau bermain di Inter Milan, apakah ini merupakan bentuk terima kasih Sandro Mazzola terhadap Inter atas scudetto Torino dan penghormatan terhadap Inter terhadap ayahnya. Dan Sandro Mazzola menjadi salah satu legenda Inter.

Tahun 2006 Inter mendapatkan gelar scudetto yang ke 14 sebuah gelar yang didapat dengan cara tidak biasa beberapa media menyebutnya dengan "Scudetto of Honesty" karena tidak terlibat skandal memalukan liga italia yang melibatkan Juventus dan AC Milan

Para fans yang pada waktu itu (1948-49) saat terjadinya tragedi superga menerima dengan tabah keputusan sang presiden, kecintaan terhadap klub Kasih Sayang, Kejujuran dan Keiklasan lebih penting dari pada sebuah juara, dan para fans pada masa dekade dan sekarang itu tidak pernah menuntut scudetto tersebut seperti apa yang kita dengar saat sekarang ini.

BACA SELENGKAPNYA ...

Rabu, 18 Januari 2012

facchetti

Facchetti siapa yang tidak kenal sama Cipe (panggilan Facchetti) ? Mantan pemain Inter di era 60-an ini telah menancapkan namanya di kancah persepakbolaan Italia, bahkan dunia! Masih ingat pertahanan gerendel atau yang lebih terkenal dengan nama catenaccio, ia salah satu aktor dibalik kesuksesan pertahanan yang bak rantai tersebut. Kali ini kita akan membahas awal mula karir sang pemain di Internazionale sampai akhir hidupnya beberapa tahun lalu. Awal Karir Treviglio , kota kecil berukuran 31 km² ini merupakan saksi kelahiran bintang baru pada era 60-an itu. Ya, Cipe lahir pada 18 Juli 1942 dan besar disana. Facchetti kecil bergabung dengan, Trevigliese, klub lokal untuk mengasah keahlian sepakbola nya. Dan pada awal karir ternyata ia beroperasi di depan gawang lawan, ya dia adalah penyerang! Pada usia 16 tahun ia memiliki dua pilihan klub besar yang bermarkas di Lombardia pada waktu itu Atalanta dan Internazionale. Dan akhirnya ia memilih Inter, dimana ia nantinya menorehkan tinta emas, sebagai klub profesional pertamanya . Dari Inter ke Inter Saat Helenio Herrera menjadi pelatih kepala Inter pada waktu itu, ia menyadari bakat terpendam Cipe untuk beroperasi di sektor belakang, dan akhirnya ia menikmati peran barunya sebagai fullback. Dan pada musim 1960/1961 ia melakukan debutnya bersama Internazionale melawan Roma (21 Mei 1961), dan debutnya berakhir manis, 2-0 untuk kemenangan Inter. Namun ia tidak dapat langsung memberikan gelar pada debut karirnya, begitu juga di tahun berikutnya. Penantian itu akhirnya datang juga, pada musim kompetisi 1962/1963 ia memberikan gelar scudetto dan ia juga menyumbang 4 gol, sebuah catatan yang dapat dibanggakan mengingat ia beroperasi sebagai bek. Setahun berselang, pada musim 1963/1964 ia gagal membawa Inter memboyong Doppietta scudetto, namun ia membawa Internazionale berjaya di tanah eropa melalui gelar di Piala Champion (kini Liga Champion). Saat itu ia membantu Internazionale mengalahkan klub raksasa Spanyol, Real Madrid, dengan skor 3-1 di Prater Stadium, Vienna. Satu musim berselang, pada tahun berikutnya (1964/195) kembali, ia membawa Inter juara di final Piala Champion, yang saat itu digelar di stadion San Siro, Milan. Inter kala itu mengalahkan Benfica, yang sudah dua kali menjuarai kompetisi serupa sebelumnya dengan skor tipis, 1-0. Tidak hanya itu! Inter juga menjuarai scudetto pada tahun ini. Sungguh prestasi yang sangat membanggakan untuk Facchetti, dan ia memiliki peranan besar mengantarkan Inter mendapatkan dua gelar tersebut. Tidak hanya suka, Cipe juga merasakan duka saat berada di Inter. Pada musim 1965/1966 ia gagal mengantarkan Inter ke final setelah dikandaskan Real Madrid dengan agregat 2-1 di semifinal. Walaupun begitu, titel scudetto tetap berhasil diraihnya. Mungkin, pengalaman paling pahit ia rasakan pada tahun 1966/1967. Berhasil mengantarkan Internazionale sampai ke final Piala Champion, namun saat itu pasukan Celtic seakan memiliki “obat anti-catenaccio”, dan akhirnya Inter kalah 2-1. Ia juga gagal memboyong scudetto kembali ke San Siro. Dan itu juga menandai puasa gelar inter selama beberapa saat. Total Facchetti telah memberikan 9 gelar kepada Inter, yaitu: 4 scudetto (1963, 1965, 1966, dan 1971), satu coppa Italia (1978), dua Piala Champion (1964 dan 1965), serta Piala Interkontinental (1964 dan 1965). Ia pun memutuskan pensiun dari Inter pada tahun 1978, dan ia mencatatkan namanya sebagai pemain yang tampil terbanyak dengan 476 penampilan, sebelum dipecahkan rekornya oleh Beppe Bergomi (519). Melenggang ke Timnas Italia Apik bersama Internazionale ia pun dipanggil timnas Italia, tepatnya saat melawan Turki (27/3/1963) ketika itu Italy unggul 0-1 atas tuan rumah. Ketika itu timnas sedang diasuh oleh Edmondo Fabbri. Sedangkan gol pertamanya di pentas internasional ketika melawan Finlandia (4/10/1964), dengan skor 6-1 untuk Italia. Penampilannya yang bagus di Inter juga ia bawa saat memperkuat Italia pada Piala Eropa 1968. Saat itu Italia dibawanya dibawa menjadi kempiun Eropa setelah mengalahkan Yugoslavia di final dengan skor 2-0. Dan yang lebih membanggakan lagi, ketika itu ia menggenggam jabatan kapten! Dua tahun berselang tepatnya Piala Dunia di Mexico (1970) ia lagi-lagi berjasa membawa Italia melaju ke final dan berhadapan dengan Brazil, sayang saat itu Italia tidak dapat membendung keperkasaan Brazil, mereka kalah dengan skor yang telak 4-1. Selain memberikan prestasi bersama Italia, ia juga memiliki prestasi-prestasi pribadiyang ia torehkan bersama Italia, 94 kali tampil untuk Italia dengan 70 diantaranya ia jalankan sebagai kapten, rekornya hanya bisa dilewati oleh Dino Zoff (112), Paolo Maldini (128), dan Fabio Cannavaro (115). Dan caps terakhirnya bersama Italia ia lakoni ketika bertanding melawan Inggris (16/11/1977), dengan hasil kemenangan untuk Inggris (2-0). Staff, Pengurus, dan (Pecinta) Internazionale Loyal, gentle, dan good personality. Mungkin kata-kata itu yang hanya dapat digambarkan oleh para pecinta sepakbola atas sosok Giacinto Facchetti. Karena kata-kata itu juga, ia masih bertahan di Inter walaupun pensiun sebagai pemain sepakbola sudah dipilihnya. Berbagai macam jabatan telah diraihnya setelah pensiun (technical director, board member, worldwide ambassador and vice president), namun yang paling tinggi yang pernah ia jabat adalah sebagai presiden Inter menggantikan Massimo Moratti. Saat itu Moratti memberikan tanggung jawab kepada dia. Dibawah kepresidenannya, Inter yang paceklik gelar pada kurun waktu yang cukup lama, akhirnya mulai menuai hasil, dua Coppa Italia, dan tambahan scudetto, dan dua Super Coppa. Sebagai presiden ia juga dikenal dengan pembelian- pembeliannya yang efektif, beberapa diantaranya adalah pembelian kembali Adriano, Maicon –yang kini menjelma menjadi wing back terhebat di dunia– , dan jangan lupakan Ibrahimovic the new Van Basten. Melawan Penyakit Kanker pankreas, sudah diderita lama oleh Cipe. Ketika ia divonis menderita kanker pankreas, ia tetap menjalankan tugas kesehariannya sebagai presiden Inter, hal ini lah yang banyak dipuji oleh orang-orang, termasuk Moratti. Sampai akhirnya tubuhnya tak kuasa menahan penyakit itu, tidak seperti saat ia menahan serangan-serangan sepakbola pada era-nya. Dear Cipe, I didn't manage to tell you what I wanted to for fear of making you understand that time was inexorable and the illness terrible. I am sorry, but I think I should thank you most of all for the patience you have always had with me. For your eyes that smiled, until the end, at the enthusiasm or the irony with which I tried to overcome the difficult times with you. A few days ago you spoke to me with hardly any voice left - and with the expression of someone who loves you - about Inter, projecting your thoughts towards a future beyond our possibilities, humble, ignorant and human. A few months ago I asked you, half joking and half serious, why we never managed to have a referee as a friend, so we could feel protected at least once. And you, with an expression that was both soft and severe, replied to me that I couldn't ask you this because you weren't capable. Fantastic. Your great dignity wasn't capable of it, your natural honesty wasn't capable of it. Neither was the sportsmanship that remained intact since your first day at Inter, with Herrera who mistakenly called you Cipelletti, and since then all of us have called you Cipe. Gentle, intelligent, courageous, reserved, far from every vulgar reaction. Thank you again for having honoured Inter, and with her, all of us. Massimo Moratti Monday, 04 September 2006 Dan Pada akhirnya ia menutup usia pada 4 September 2006 lalu akibat penyakitnya itu. Juga Inter memensiunkan no.3, yang sebelumnya dipakai oleh Burdisso, sebagai tanda penghormatan kepadanya. Rest in peace Inter legend, may the rest continue your struggle. dikutip dari : www.interclub.or.id

BACA SELENGKAPNYA ...

sejarah inter milan

Klub ini didirikan pada 9 Maret 1908 mengikuti pecahnya dari Klub Kriket dan Sepak bola Milan (Milan Criket and Football Club), yang sekarang lebih dikenal dengan nama AC Milan. Sebuah kelompok terdiri dari orang-orang Italia dan Swiss (Giorgio Muggiani, seorang pelukis yang juga
merancang logo klub, Bossard, Lana, Bertoloni, De Olma, Enrico Hintermann, Arturo Hintermann,
Carlo Hintermann, Pietro Dell'Oro, Hugo dan Hans Rietmann, Voelkel, Maner , Wipf, dan Carlo Arduss)
yang tidak terlalu suka akan dominasi orang-orang Inggris & Italia di AC Milan dan mereka
memutuskan untuk memecahkan diri dari AC Milan. Nama Internazionale diambil dari keinginan
pendiri-pendirinya untuk membuat satu klub yang terdiri dari banyak pemain dari negara-negara luar. Klub ini memenangkan juaranya pada tahun 1910 dan yang kedua pada tahun 1920. Kapten dan Pelatih yang membawa Inter meraih Scudetto pertama adalah Virgilio Fossati , yang tewas dalam
Perang Dunia I. Pada tahun 1921, Inter termasuk salah satu tim yang keluar dari FIGC dan mengikuti liga yang
dibentuk oleh C.C.I (Confederazione Calcistica Italiana). C.C.I merupakan organisasi tandingan FIGC
(Federazione Italiana Giuoco Calcio) yang dibentuk oleh tim-tim yang meminta rencana
pengurangan anggota Serie-A. Inter berada dalam grup B dalam liga tersebut. Setelah hanya
mampu mengumpulkan 11 angka, Inter berada di posisi terbawah klasemen akhir. Hanya bertahan
satu musim akhirnya C.C.I bubar karena akhirnya dicapai persetujuan dengan FIGC melalui petisi yang dilayangkan oleh Direktur harian La Gazzetta dello Sport yakni Emilio Colombo dan dikenal
dengan petisi Comprommeso Colombo. Tim-tim yang berlaga di liga C.C.I pun bergabung kembali
dalam FIGC, yang mengakibatkan format dan kompetisi disusun ulang dengan menggabungkan
tim-tim yang berlaga di liga C.C.I dan Serie-A FIGC sesuai dengan poin-poin kesepakatan dalam
petisi tersebut. Karena Inter berada di posisi terbawah sehingga Inter harus mengikuti fase
Spareggi (Babak kualifikasi pen-degradasi-an), dan Inter berhasil lolos kembali bermain di kompetisi Serie A setelah mengalahkan SC Italia-Milan 2-0 kemudian Libertas Firenze dengan
agregat 4-1 (3-0 & 1-1) di kualifikasi Spareggi tersebut. Selama waktu perang, Inter juga sempat berganti nama menjadi Ambrosiana SS Milano selama era fasisme di Italia setelah bergabung dengan Milanese Unione Sportiva pada tahun 1928. Bahkan setahun kemudian presiden klub terpilih Oreste Simonotti mematenkan nama Inter menjadi AS Ambrosiana pada tahun 1929, untuk menyesuaikan diri dengan kepemimpinan Benito Mussolini, dan pada akhirnya pada tahun 1931, presiden baru Inter Ferdinando Pozzani mengubahnya lagi menjadi AS Ambrosiana-Inter. Walaupun demikian, Inter masih tetap bisa memenangkan trofi ketiga mereka pada tahun 1930. Mengikuti itu, trofi keempat dimenangkan pada tahun 1938. Inter
pertama kali memenangkan Copa Italia (Piala Italia) pada tahun 1940 dipimpin oleh Giuseppe Meazza, dan pada tahun yang sama mereka memenangkan trofi kelima mereka, meskipun Meazza mengalami cedera. Sejak tahun 1942 sampai sekarang, nama Ambrosiana-Inter tidak pernah dipakai
lagi dan mereka memakai nama asli mereka, Internazionale Milano. Setelah masa perang, Inter memenangi gelar Seri A lagi pada tahun 1953 dan yang ketujuh pada
tahun 1954. Setelah memenangi beberapa trofi ini, Inter memasuki masa keemasan mereka yang disebut La Grande Inter. Selama masa keemasan mereka, dibawah asuhan Pelatih Helenio Herrera, Inter memenangkan tiga trofi pada tahun 1963, 1965, dan 1966. Pada waktu ini, Inter juga terkenal
dengan kemenangan Piala Eropa dua kali berturut-turut. Pada tahun 1963, Inter memenangkan trofi Piala Eropa mereka setelah mengalahkan klub terkenal Real Madrid. Musim selanjutnya, bermain di kandang mereka sendiri, Inter memenangkan trofi Piala Eropa untuk kedua kalinya
setelah mengalahkan klub dari Portugal, Benfica. Setelah masa keemasan pada tahun 1960, Inter berhasil untuk memenangkan gelar mereka
kesebelas kalinya pada tahun 1971 dan kedua belas kalinya pada tahun 1980. Pada tahun 1970 dan
1980, Inter juga memenangi dua trofi Piala Italia pada tahun 1978 dan 1982. Inter berhasil meraih
gelar scudetto mereka yang ke tigabelas kali pada tahun 1989 dan membutuhkan waktu yang
sangat panjang hingga 17 tahun hingga mereka dapat memenanginya lagi pada tahun 2006, tetapi
melalui cara yang lain dari biasa atau yang mereka sebut dengan "Scudetto of Honesty" (juara dari kejujuran), karena mereka tidak terbukti bersalah dalam skandal "calciopoli" yang ikut menyeret
beberapa klub besar Italia yang terbukti bersalah dan mendapat penalti pengurangan poin juga
pencopotan gelar bagi juara sebelumnya. Baru pada tahun selanjutnya atau 2007 Inter berhasil
menjadi juara bertahan, sekaligus menorehkan rekor dengan 17 kemenangan beruntun di
kompetisi lokal.

BACA SELENGKAPNYA ...

inter milan

Football Club Internazionale Milano S.p.A atau lebih dikenal dengan nama Inter Milan atau yang mempunyai julukan il Nerazurri (si biru hitam), il Biscone (si ular besar), dan juga La Beneamata (yang tersayang) adalah sebuah klub sepak bola Italia, berseragam garis biru-hitam bermain di Seri A (divisi pertama) sejak tahun 1908. pendukung Internazionale disebut Interisti. Tahun 2010 adalah pencapaian terbaik kedua bagi Inter sepanjang sejarah sejak berdiri. Meraih lima gelar sekaligus
(Serie A, Coppa Italia, UEFA Champions League, Supercoppa Italiana, dan FIFA Club World Cup). Inter
bermain di stadion Giuseppe Meazza dan berlatih di Angelo Moratti Sports Center (dikenal juga sebagai La Pinetina) sebuah fasilitas latihan berjarak 30 km di Appiano Gentile.

BACA SELENGKAPNYA ...